Karya Tulis

KESENIAN TOPENG IRENG

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah
Seiring berjalannya waktu, kemajuan zaman berkembang dengan pesat dan senantiasa mempengaruhi pola pikir manusia untuk selalu mengadakan perubahan. Era globalisasi merupakan wujud nyata dari pola pikir, tingkat kemajuan, dan kreatifitas manusia. Sekarang ini banyak perubahan meliputi beberapa aspek. Salah satunya dibidang kesenian budaya. Munculnya Budaya Barat dalam kehidupan sehari – hari, menyebabkan menurunnya minat para pemuda terhadap kebudayaan Jawa.
Beberapa contoh kebudayaan Barat yang sekarang ini menjadi tren di kalangan pemuda, yaitu Break Dance dan Hip Hop. Selain kebudayaan Barat, gengsi para pemuda terhadap kebudayaan Jawa juga merupaka salah satu faktor menurunnya minat para pemuda terhadap kebudayaan Jawa.

2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang di atas, maka dirumuskan beberapa permasalahan yaitu :
- Bagaimana cara melestarikan budaya Jawa agar tetap lestari?
- Apa makna kesenian Topeng Ireng bagi kelompok pemuda?

3. Tujuan Karya Tulis
A. Untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap budaya Jawa.
B. Melestarikan budaya Jawa.
C. Mengenalkan budaya Jawa Topeng Ireng kepada masyarakat.
D. Memenuhi tugas Bahasa Indonesia

4. Kegunaan Penulisan
A. Bagi Pembaca
Pembaca dapat mengetahui kebudayaan Jawa yaitu Topeng Ireng. Pembaca juga dapat mengetahui betapa indahnya kesenian Topeng Ireng. Selain itu, pembaca dapat mengetahui makna dari kebudayaan tersebut.

B. Bagi Penulis
Penulis dapat menerapkan ilmu yang didapat selama di sekolah. Selain itu juga dapat menambah pengetahuan tentang kebudayaan Jawa yaitu Topeng Ireng.

5.Metodologi Penelitian.
Metodologi Penelitian dapat diartikan sebagai ilmu tentang tata cara melakukan penelitian, dimana bisa menghasilkan karya yang optimal dan kesimpulan yang dapat diberlakukan secara umum atau dapat dipertanggung jawabkan dengan menggunakan cara-cara keilmuan atau metodologi yang lazim dipergunakan dalam penelitian ilmiah ( Supardi, 2005:10 ).
A. Jenis Penelitian
Dalam penulisan Karya Tulis ini, Penulis menggunakan metode deskriptif. Metode deskriptif adalah metode dalam penelitian yang membuat deskripsi atau menggambarkan objek penelitian.

B. Penulis dalam penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data sebagai berikut :
a. Wawancara
Pengumpulan data dengan cara mengajukan pertanyaan secara langsung kepada narasumber.

b. Observasi
Melakukan pengamatan secara langsung terhadap objek penelitian, kemudian melakukan pencatatan terhadap data – data yang dibutuhkan.
c. Kepustakaan
Menekankan kepada penelaahan buku yang berhubungan dengan penelitian.

C. Objek Penelitian
Objek penelitian dalam Karya Tulis ini adalah kesenian Topeng Ireng di Temanggung.

D. Prosedur Penelitian
a. Survey
Penulis melakukan pengamatan langsung terhadap objek penelitian untuk mengetahui dan mencari permasalahan yang ada serta mencari cara untuk menyelesaikan masalah tersebut.
b. Menemukan Masalah
Penulis mengumpulkan sumber yang menyebabkan masalah itu timbul dengan melakukan pendekatan terhadap semua pihak.
c. Merumuskan Masalah
Penulis merumuskan masalah-masalah yang menyebabkan masalah itu terjadi.
d. Membuat Rancangan
Setelah masalah ditentukan, penulis merancang suatu sistem baru.
e. Penulisan
Penulis mengembangkan rancangan yang sudah disusun berdasarkan bahan yang tersedia dengan mempertahankan susunan yang sistematis dan logis.
f. Revisi
Penulis membaca kembali karangan yang telah tersusun.
E. Sistematika Penulisan
Kerangka keseluruhan karya tulis ini terdiri dari (jumlah) Bab yaitu ;
BAB I PENDAHULUAN
Membahas Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Karya Tulis, Manfaat Karya Tulis, Metodologi Penelitian, dan Sistematika Penulisan.
BAB II KAJIAN TEORI
Membahas Pengertian Kebudayaan, dan Kesimpulan.
BAB III ISI
Membahas tentang isi dari Karya Tulis ini.
BAB IV PENUTUP
Mambahas tentang Kesimpulan dan Saran.

BAB II
KAJIAN TEORI

1. Pengertian Kebudayaan
a. Budaya
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai “kultur” dalam bahasa Indonesia. (http://id.wikipedia.org/wiki/Kebudayaan).

- Pengertian Kebudayaan :
1. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. ( Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski )
2. Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic.( Herskovits )
3. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.

4. Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.
5. Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
6. Menurut M. Jacobs dan B.J. Stern kebudayaan mencakup keseluruhan yang meliputi bentuk teknologi sosial, ideologi, religi, dan kesenian serta benda, yang kesemuanya merupakan warisan sosial.
7. Menurut Koentjaraningrat kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan relajar.
8. Menurut Dr. K. Kupper kebudayaan merupakan sistem gagasan yang menjadi pedoman dan pengarah bagi manusia dalam bersikap dan berperilaku, baik secara individu maupun kelompok.
9. Menurut William H. Haviland kebudayaan adalah seperangkat peraturan dan norma yang dimiliki bersama oleh para anggota masyarakat, yang jika dilaksanakan oleh para anggotanya akan melahirkan perilaku yang dipandang layak dan dapat di terima oleh semua masyarakat.
10. Menurut Ki Hajar Dewantara kebudayaan berarti buah budi manusia adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni zaman dan alam yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran didalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai.
11. Menurut Francis Merill kebudayaan adalah :
• Pola-pola perilaku yang di hasilkan oleh interaksi sosial.
• Semua perilaku dan semua produk yang dihasilkan oleh seseorang sebagai anggota suatu masyarakat yang di temukan melalui interaksi simbolis.
12. Menurut Bounded et.al, kebudayaan adalah sesuatu yang terbentuk oleh pengembangan dan transmisi dari kepercayaan manusia melalui simbol-simbol tertentu, misalnya simbol bahasa sebagai rangkaian simbol yang digunakan untuk mengalihkan keyakinan budaya di antara para anggota suatu masyarakat. Pesan-pesan tentang kebudayaan yang di harapkan dapat di temukan di dalam media, pemerintahan, intitusi agama, sistem pendidikan dan semacam itu.
13. Menurut Mitchell (Dictionary of Soriblogy) kebudayaan adalah sebagian perulangan keseluruhan tindakan atau aktivitas manusia dan produk yang dihasilkan manusia yang telah memasyarakat secara sosial dan bukan sekedar di alihkan secara genetikal.
14. Menurut Robert H Lowie kebudayaan adalah segala sesuatu yang di peroleh individu dari masyarakat, mencakup kepercayaan, adat istiadat, norma-norma artistik, kebiasaan makan, keahlian yang di peroleh bukan dari kreatifitasnya sendiri melainkan merupakan warisan masa lampau yang di dapat melalui pendidikan formal atau informal.
15. Menurut Arkeolog R. Seokmono kebudayaan adalah seluruh hasil usaha manusia, baik berupa benda ataupun hanya berupa buah pikiran dan dalam penghidupan.

Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat. (http://boykb.blogspot.com/2010/07/pengertian-kebudayaan.html)

BAB III
KESENIAN TOPENG IRENG

1. SEJARAH TOPENG IRENG
Kesenian Dayakan atau Topeng Ireng banyak berkembang di tengah masyarakat pedesaan, pada masa 1960-an umat Islam ketika membangun Masjid atau Mushola sering memasang Mustaka atau Kuba’, sebelum Mustaka tersebut dipasang dikirab dulu keliling desa, kirab tersebut diikuti oleh masyarakat Islam di sekitar masjid dengan didahului kesenian Lutungan yang diiringi dengan tetabuhan rebana dan diiringi lagu puji-pujian, antara kesenian Lutungan, iringan rebana dan syair puji-pujian tersebut terbentuklah kesenian Dayakan. Kesenian ini gerakannya ada unsur ke-Jawa-an tata rias keIndian-indianan, irah-irahan keIndian-indianan, sedangkan busana bagian bawah adalah pakaian adat Kalimantan atau suku Dayak, maka kesenian ini dinamakan Dayakan.
Pada tahun 1995 kata-kata Dayakan dikhawatirkan mengandung unsur SARA ( unsur kemusyrikan ), maka kesenian tersebut diubah menjadi kesenian Topeng Ireng, tetapi sejak tahun 2005 nama Dayakan dipopulerkan lagi. Kesenian ini diilhami oleh film-film Indian seperti nampak pada jenis busana dan tata riasnya, sedang tata busana bagian bawah terpengaruh oleh tata busana Dayak, Nusa Tenggara Timur dan Maluku.
Seni kebudayaan Dayaan atau Topeng Ireng mengisahkan tentang perjuangan seorang pertapa untuk membuka lahan hutan untuk dijadikan sebagai tempat pemukiman, dimana dihutan tersebut terdapat manusia rimba. Seorang pertapa tersebut melawan para manusia rimba dan mengajari mereka untuk hidup sebagai manusia biasa, mengajak mereka membuka hutan, membuka lahan pertanian, dan mengajari seni bela diri. (http://www.jogjatrip.com/media/objek/991da798109d32ede070b8901a9f0273)

2. ARTI TOPENG IRENG
Tarian Topeng Ireng ini, berasal dari kata “Toto Lempeng Irama Kenceng”. Toto berarti Menata. Lempeng artinya lurus. Irama adalah nada, dan Kenceng berarti Kencang. Topeng Ireng berarti penarinya berbaris lurus dengan irama yang penuh semangat.
“Tari Topeng Ireng adalah gambaran kebersamaan, kekompakan dan semangat tinggi serta kerja keras dalam menjalankan kebenaran,” kata Sumardjono sembari menambahkan alunan irama pada lagu bernuansa religi dengan isi syair agama Islam yang menyatu dengan gerak dan suara penari sehingga menghadirkan kedinamisan.
Topeng Ireng sebetulnya merupakan metamorfosa dari kesenian tradisional Kubro Siswo. Agar lebih menarik kaum muda, pengembangan unsur-unsur artistik yang ada dikemas dan disesuaikan dengan tuntutan kualitas garapan koreografi seni pertunjukan yang inovatif. Sehingga, seni topeng ireng memiliki daya tarik tersendiri tafsir masyarakat terhadap Dayakan.
Bila dikaitkan antara stereotip mengenai Dayak di atas dengan sebutan Dayakan bagi kesenian Topeng Ireng. Jelas kiranya bahwa penamaan atau pemberian nama sekelompok individu atau masyarakat terhadap sesuatu yang dilihatnya adalah berdasarkan interpretasi yang paling pertama muncul dalam dirinya pada saat melihat sesuatu tersebut. Pada kesenian Topeng Ireng, individu pertama kali yang melihat kesenian ini pasti akan menghubungkannya dengan stereotip mereka mengenai Dayak.
Kaitannya dengan keberadaan cerita K.H. Subkhi dalam pementasan,kata Dayak diinterpretasikan sebagai suatu penggambaran sikap pemberani yang harus dimiliki oleh seorang prajurit TNI dalam menghadapi penjajahan. Sehingga untuk lebih memudahkan dalam penyebutan terhadap kesenian ini, maka masyarakat menggunakan interpretasi mereka tersebut, sehingga terciptalah sebutan Dayakan terhadap kesenian Topeng Ireng ini.
(http://jogjanews.com/2010/06/29/tari-topeng-ireng-cahyo-kawedan-kalibawang-kulonprogo-lestarikan-syiar-islam-dengan-seni-silat/)

3. TATA CARA DAN MAKNA TARIAN TOPENG IRENG
A. TATA CARA PENTAS
Mereka berdiri dan berebut untuk menempati tempat paling depan. Beberapa saat kemudian alat musik mulai dimainkan, pada awalnya suara yang muncul berasal dari alat musik bendhe yang kemudian diikuti oleh alat musik lain. 5-10 menit instrumen musik tersebut mengalun untuk memberikan waktu bagi para penari mempersiapkan barisan di tepi arena. Ketika syair lagu mulai dinyanyikan oleh sang vokalis, satu per satu penari masuk arena pementasan dengan tarian inti Topeng Ireng sampai terbentuk suatu pola lantai atau pola barisan. Gerakan pola lantai dan barisan berikutnya mengikuti alunan beberapa lagu dan menyesuaikan dengan dinamika musik dalam lagu-lagu yang dibawakan non-stop selama kurang lebih 45 menit tersebut. Inilah yang merupakan babak pertama dalam kesenian Topeng Ireng, yaitu babak Rodat Dayakan.
Selang beberapa saat setelah babak pertama selesai ditampilkan, babak kedua yaitu Montholan mulai disajikan. Beberapa pemain dengan riasan seperti Punakawan dalam cerita pewayangan mulai memasuki arena. Dalam babak ini disajikan lawakan-lawakan dengan bahasa Jawa dan dan syair-syair lagu yang mengundang tawa penonton. Babak ini berlangsung kurang lebih 30 menit. Dalam babak ini pemeran Tokoh Sentral yang menjadi pusat dari cerita yang terkandung dalam pementasan Topeng Ireng masuk ke arena dan memerankan perannya dalam cerita yang disajikan. Di tengah cerita, Pemain rodat Dayakan kembali masuk ke arena pementasan sesuai dengan alur cerita yang ingin disampaikan. Beberapa saat kemudian beberapa pemain dengan kostum mirip hewan seperti macan, banteng, dan sebagainya memasuki arena dengan gerakan yang tidak memiliki aturan dan seolah ”liar”. Pada babak ini sudah masuk ke babak ke tiga yaitu babak Kewanan. Dalam babak ini pemain dari ketiga babak yang ada dan Si Tokoh Sentral berada di arena pementasan dengan perannya masing-masing. 20 menit kemudian pementasan diakhiri dengan posisi jatuh atau gerakan mundur yang dilakukan oleh pemain Kewanan. Setelah itu semua pemain meninggalkan arena pementasan.
Beberapa gambar saat Pementasan Topeng Ireng :

B.MAKNA GERAK
Bentuk gerakan tari Topeng Ireng tidak memiliki aturan yang baku hanya terkadang muncul gerak-gerak yang merupakan ciri khas tari kerakyatan. Ciri khas yang ada dalam kesenian Topeng Ireng tersebut antara lain adalah banyaknya hentakan kaki dan pengulangan gerak. Gerak dalam kesenian ini pun tidak dapat terlepas dari iringan yang ada, karena geraknya mengikuti alunan musik yang dibawakan.
Dalam kesenian Topeng Ireng atau Dayakan ini dibagi menjadi 3 babak pertunjukan yang memiliki dasar gerakan yang berbeda diantara ketiga babak tersebut. Dalam ketiga babak tersebut dalam suatu pertunjukan biasanya menyajikan salah satu lakon cerita rakyat yang telah populer di masyarakat sekitar. Dijelaskan bahwa dalam kesenian Topeng Ireng terdapat 3 babak tarian, yang terbagi menjadi Rodat Dayakan, Montholan dan Kewanan. Dalam hubungannya antara si Tokoh Sentral dengan ketiga babak tersebut adalah ketiga babak itu sebagai pelengkap cerita perjalanan si Tokoh Sentral. Pada babak Rodat Dayakan terdapat beberap gerakan inti seperti gerak hentakan kaki seolah-olah seperti serombongan prajurit yang keluar dari persembunyiannya untuk menghadapi musuh dengan membawa sifat tegas, keras, tidak terkalahkan, dan berani menghadapi segala tantangan. Hentakan kaki tersebut menggambarkan gertakan yang keras dalam menghadapi musuh di depannya. Sehingga hanya dengan hentakan kaki saja musuh akan takut terhadapnya. Gerak yang lain adalah gerak satu kaki diangkat dan tangan dinaikkan ke atas, dalam gerakan ini secara subjektif peneliti menggambarkan para pemain Topeng Ireng adalah prajurit yang memiliki kemampuan bela diri yang baik. Kemampuan bela diri ini mereka tunjukkan ketika gertakan sudah tidak mampu membuat pihak musuh gentar. Gerakan yang lain adalah gerak berjongkok menundukkan badan. Penafsiran subjektif peneliti dalam gerakan ini menggambarkan bahwa prajurit merupakan bawahan dari raja yang memerintah. Jadi mereka memiliki sifat sendika dhawuh terhadap pemimpinnya ataupun seseorang yang lebih tinggi kedudukannya daripada mereka.
Babak Montholan dalam interpretasi cerita seorang Tokoh Sentral yang disebutkan adalah para pengombyong dari si Tokoh Sentral. Pengombyong di sini diartikan sebagai para pengikut yang menemani perjalanan si Tokoh Sentral. Dengan kebiasaannya menyanyi, menari, dan melucu, mereka menghibur si Tokoh Sentral ketika ia merasa kelelahan.
Sedangkan dalam babak kewanan ini merupakan penggambaran dari gangguan-gangguan yang dihadapi oleh si Tokoh Sentral dalam perjalanan pengembaraannya. Gangguan ini berwujud hewan-hewan liar dan buas seperti macan, singa, sapi liar, banteng, dan sebagainya. Gerakan ini juga mengandung nasihat bahwa manusia jangan bertingkah laku seperti hewan yang tidak beradab, tidak berakal, sehingga hidupnya menjadi sia-sia.

C. MAKNA TATA PAKAIAN, RIAS, DAN PROPERTI
Keseluruhan kostum yang dikenakan pada saat pementasan sebagian besar adalah milik pribadi para pemain Topeng Ireng dari “Perwira Rimba” ini. Mereka mengusahakannya sendiri dengan memesan semua atribut kostum tersebut pada pembuatnya, dalam arti pihak “Perwira Rimba” tidak menyediakan kostum terutama kuluk dan binggel (klinthingan). Hal ini tentu sangat dipengaruhi oleh rasa “senang” mereka terhadap kesenian Topeng Ireng ini.
Makna secara keseluruhan dari kostum para pemain Topeng Ireng ini juga tidak lepas dari keidentikan mereka dengan suatu pasukan prajurit berseragam lengkap bahkan bersepatu boat yang menunjukkan ketegasan dan sikap keras.
Sedangkan dalam riasan, kesenian Topeng Ireng memiliki ciri khas tata rias coreng-moreng beraneka warna. Tafsir semiotik sebagai pandangan subyektif peneliti terhadap gambar di atas mengacu pada tafsiran simbol berwarna putih yang terdapat pada bagian depan kuluk yang dikenakan pemain. Simbol berwarna putih tersebut dapat secara jelas dilihat merupakan gambar kepala singa. Simbol ini menggambarkan sifat dari binatang singa yang liar dan kuat tak tertandingi karena sebagai raja hutan. Pada tata rias pada wajah di atas juga menggambarkan wajah seperti harimau yang seolah ingin menunjukkan kegarangan sifatnya. Simbol di atas merepresentasikan sifat seorang prajurit yang seharusnya memiliki keberanian, ketangguhan, dan kekuatan yang tak tertandingi. Sehingga dengan penampilan yang seperti ini diharapkan musuh saat melihatnya saja sudah gentar. Memang kesenian Topeng Ireng ini seolah seperti suatu pasukan prajurit yang akan turun berperang melawan musuh dengan segala persiapan dan propertinya.

D.MAKNA IRINGAN, MUSIK, DAN LAGU
Alat musik yang digunakan sebagai pengiring dalam tari Topeng Ireng ini diantaranya adalah jidhor, seruling, dhogdhog dan bendhe. Melalui beberapa alat musik yang mudah dijumpai tersebut, komunitas kesenian Topeng Ireng ini mempertahankan tradisinya. Dengan tujuan awal sebagai alat syiar agama Islam, para pemusik dalam kelompok tersebut membuat beberapa lagu yang di dalamnya terkandung tema-tema diantaranya lagu perkenalan, lagu bernuansa pesan religi, lagu bernuansa pesan moral dan lagu bernuansa sosial.

E. MAKNA POLA LANTAI
Pola lantai yang ada dalam kesenian Topeng Ireng adalah pola dinamis, yaitu pola dengan arah gerak bebas, bisa ke samping, ke depan, ke belakang, ke sudut dan berbagai bentuk pola atau garis. Bisa lurus, melingkar, spiral, melengkung, persegi, dan sebagainya.
Pemaknaan dari masing-masing pola lantai masih terkait dengan gerakan Rodat Dayakan yang diidentikkan dengan tarian Prajuritan. Sehingga pola lantai yang ada merupakan penggambaran dari sifat yang dimiliki prajurit ketika menghadapi musuh dan melindungi kerajaannya. Diantaranya terdapat pola barisan yang menunjukkan sikap suatu pasukan prajurit yang tegas, dengan pemimpin yang berani dan mampu memimpin pasukannya dengan baik. Selain itu terdapat pola barisan yang menunjukkan suatu pasukan prajurit yang kuat dan kokoh dengan keberadaan pemimpin di tengah-tengah mereka. Pemimpin yang bisa diandalkan ketika berada di depan, dan pemimpin yang mampu memberi dorongan yang baik kepada pasukannya ketika berada di belakang. Ada pula barisan yang menggambarkan suatu pasukan prajurit yang kuat dalam pertahanannya. Tidak dapat dimasuki dari sisi manapun. Pemimpin berada di depan sedang bagian belakang ditutup dengan barisan pasukan. Selain itu terdapat pola barisan yang menggambarkan pasukan yang menempatkan posisi pemimpin di tengah, dan posisi pasukan yang berada di segala penjuru membentuk suatu pertahanan yang baik sehingga akan memudahkan untuk mengalahkan musuh. Kemudian digambarkan pula posisi pemimpin dan pasukannya saling menyebar. Hal ini diartikan sebagai upaya mengelabuhi musuh agar tidak secara jelas terlihat keberadaannya oleh musuh.
Menurut beberapa informan, makna kesenian Topeng Ireng terutama yang disajikan oleh kelompok “Perwira Rimba” ini secara keseluruhan, dalam arti bukan makna dari tiap-tiap unsurnya adalah terdapat suatu bentuk cerita perjuangan para prajurit atau tentara RI dalam upaya melindungi sang Tokoh Sentral yaitu K.H. Subkhi yang berasal dari Kauman, Parakan dari ancaman serangan musuh (penjajah). Dalam cerita ia melarikan diri untuk mengungsi ke hutan untuk menghindari penjajah.
Cerita ini pada pementasan kesenian Topeng Ireng disajikan dalam tiga babak berturut-turut, yaitu pada babak Rodat Dayakan, Montholan dan Kewanan. Pada babak Rodat Dayakan para pemainnya menggambarkan dirinya sebagai tentara nasional atau prajurit TNI yang berjuang dengan turut mendampingi dan melindungi K.H. Subkhi dalam pengungsiannya ke hutan. Para prajurit tentara ini digambarkan berbondong-bondong membentuk barisan sebagai pengawal dalam perjalanan K.H Subkhi ke hutan. Para prajurit tersebut berusaha melindungi beliau karena mereka tidak mau tokoh yang sangat berperan dalam pengadaan persenjataan mereka menjadi target penjajah.
Kemudian pada babak Montholan digambarkan terdapat rombongan pengombyong dari K.H. Subkhi yang selalu bergurau dalam perjalanan ke hutan tersebut. Gurauan tersebut ditunjukkan dengan nyanyian dan tebak-tebakan lucu. Gurauan dari para pengombyong tersebut mampu melepaskan kepenatan dan kelelahan dalam perjalanan rombongan K.H. Subkhi tersebut dalam pengungsiannya ke hutan. Dalam pengungsian ke hutan ini rombongan K.H. Subkhi diganggu oleh hewan-hewan buas penunggu hutan yang dalam kesenian Topeng Ireng “Perwira Rimba” digambarkan pada babak Kewanan. Namun karena kesaktian yang dimiliki oleh K.H. Subkhi hewan-hewan buas tersebut dapat dilumpuhkan oleh beliau. Babak ini menjadi akhir dari keseluruhan babak yang ada pada pertunjukan kesenian Topeng Ireng.
(http://jingganyasenja.wordpress.com/2010/08/31/kajian-antropologi-hermeneutik-tentang-makna-kesenian-topeng-ireng-bagi-kelompok-pemuda-%E2%80%9Dperwira-rimba%E2%80%9D/)

F. NILAI-NILAI YANG TERKANDUNG DALAM TOPENG IRENG
Di dalam kesenian Topeng Ireng terkandung nilai sosial. Nilai atau fungsi sosial tersebut dapat dilihat dari pelaksanaan pementasan Topeng Ireng sendiri hadir di masyarakat sebagai salah satu bentuk kegiatan sosial yang apabila ditelusuri lebih dalam merupakan kepentingan bersama. Dengan kata lain, Topeng Ireng adalah sebuah karya dari masyarakat yang diwujudkan dalam sebuah komunitas bentuk seni tari dan hidup dalam lingkungan kerakyatan, yang merupakan budaya yang lahir dari keragaman kebutuhan anggota masyarakat tersebut. Kehadiran komunitas kesenian dalam masyarakat dapat dilihat dari antusiasme para pemain dalam memerankan setiap adegan. Pada keterlibatan mereka dalam komunitas kesenian ini banyak disebabkan oleh alasan sosial, diantaranya untuk menambah wawasan dan pengalaman hidup serta menambah teman atau saudara.
(http://jingganyasenja.wordpress.com/2010/08/31/kajian-antropologi-hermeneutik-tentang-makna-kesenian-topeng-ireng-bagi-kelompok-pemuda-%E2%80%9Dperwira-rimba%E2%80%9D/)

G. FUNGSI TOPENG IRENG
Soedarsono (1999: 57) mengelompokkan seni ke dalam dua fungsi utamanya yaitu fungsi primer dan fungsi sekunder.
1. Secara garis besar terdapat tiga fungsi primer, yaitu :
a. Sebagai sarana ritual
b. Hiburan pribadi
c. Sebagai presentasi estetis
d. Penyebaran Agama Islam
“Meskipun seni ini dimaksudkan untuk siar Islam, ternyata kita juga mendapat tanggapan dari warga Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. Jadi seni ini diminati semua kalangan,”tambah Suyanto, yang juga salah satu pelatih tari topeng ireng, rekan Sumarjono.
2. Sedangkan fungsi sekundernya adalah :
a.Sebagai mata pencaharian
b.Media penerangan
c.Media pendidikan dan sebagainya
(http://jingganyasenja.wordpress.com/2010/08/31/kajian-antropologi-hermeneutik-tentang-makna-kesenian-topeng-ireng-bagi-kelompok-pemuda-%E2%80%9Dperwira-rimba%E2%80%9D/)

H. MAKNA TOPENG IRENG DI KALANGAN PEMUDA
Dalam penelitian ini kami fokuskan kajian pada kelompok kesenian “Perwira Rimba” yang bertempat di Kampung Pandesari Kelurahan Parakan Wetan Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung. “Perwira Rimba” merupakan kelompok kesenian yang didirikan oleh seorang putra Borobudur yang bernama H. Haryoto, yang kemudian bertempat tinggal tetap di Kampung Pandesari Kelurahan Parakan Wetan Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung. Pada mulanya, terbersit keinginan darinya untuk turut mengembangkan kesenian khas daerah Borobudur di daerah sekitarnya seperti Temanggung. Pada mulanya, beliau membentuk kelompok kesenian Kubro Siswo yang juga merupakan kesenian khas Borobudur, hingga sekarang ia mengembangkan kelompok keseniannya dengan berkesenian Topeng Ireng.
Pembentukan kelompok kesenian ini oleh H. Haryoto pada mulanya memang bukan untuk menghidupkan kesenian Topeng Ireng yang berasal dari Borobudur, Magelang. Namun kelompok ini pada awal berdiri mengetengahkan kesenian yang bernama Kubro Siswo, yang melibatkan anak-anak dan pemuda dari Kampung Pandesari di mana H. Haryoto tinggal. Alasan beliau mengajak anak-anak dan pemuda di sana untuk menghidupkan kesenian rakyat adalah agar anak-anak dan para pemuda tersebut memiliki kegiatan yang positif untuk mengisi waktu luang mereka. Karena dikhawatirkan jika anak-anak dan pemuda di sana tidak memiliki kegiatan yang bermanfaat, mereka akan terjerumus ke hal-hal yang tidak berguna dan merugikan.
Seni seperti juga tari, tidak pernah lepas dari satu kata yaitu estetika atau keindahan. Tujuan penciptaan sebuah karya seni pun untuk menghadirkan keindahan. Sehingga tidak heran jika dalam anggapan masyarakat, seni termasuk pula seni tari seperti juga kesenian Topeng Ireng, dianggap sebagai suatu keindahan. Menurut Hadi (2005: 12-24) keberadaan tari sebagai bentuk kesenian dalam anggapan masyarakat diantaranya adalah tari sebagai keindahan, tari sebagai kesenangan, tari sebagai sarana komunikasi, tari sebagai sistem simbol dan tari sebagai supraorganik.
Pemuda yang tergabung dalam kelompok kesenian ”Perwira Rimba” yang juga sebagai anggota masyarakat, memiliki anggapan bahwa kesenian Topeng Ireng ini sarat dengan keindahan. Karena sebagai suatu seni, Topeng Ireng memang harus tersaji dengan indah atau menurut Hadi (2004: 15) dalam istilah kesenian tari Klasik Jawa dianggap seni tari yang ”adiluhung”, yaitu indah dan luar biasa hebat. Sehingga untuk terus menciptakan keindahan itu, dalam kesenian Topeng Ireng pada kelompok kesenian ”Perwira Rimba” terus mengembangkan kreasi-kreasi tariannya.
Kehadiran tari dalam masyarakat seperti pula Topeng Ireng kadang kala sebagai kesenangan saja, yang dapat memberikan kesenangan tidak hanya kepada penciptanya, namun juga kepada orang lain yang menikmati. Rasa senang di sini dapat digambarkan dengan perilaku para pemain Topeng Ireng ini, tidak hanya saat pentas, namun juga saat latihan dan perilaku sehari-hari mereka. Jika ada jadwal pentas yang dilaksanakan siang hari, mereka sampai rela meninggalkan pekerjaan mereka demi mengikuti pementasan tersebut. Selain itu, rasa senang juga ditunjukkan pada saat latihan.
Sebagai sarana komunikasi keberadaan Topeng Ireng terutama pada pemuda ”Perwira Rimba” ini adalah sebagai media interaksi bagi dirinya dengan anggota masyarakatnya. Dengan berada di ”Perwira Rimba” ini para pemuda tersebut lebih erat hubungannya satu sama lain. Selain itu dalam ”Perwira Rimba” ini ternyata mereka juga menemukan ilmu dalam berorganisasi.
Sebagai suatu kesatuan sistem simbol, maka kesenian Topeng Ireng perlu ditafsirkan makna yang terkandung di dalamnya. Penafsiran kesenian Topeng Ireng ini mengacu kepada aspek-aspek yang dimiliki suatu seni tari yaitu diantaranya gerak, tata pakaian, rias, properti, iringan dan lagu, serta pola lantai.
Tari seperti Topeng Ireng sebagai bagian integral dari dinamika sosio-budaya masyarakat, semata-mata memandang seni itu bukan gejala yang sifatnya organik yang lebih konkrit, tetapi lebih kepada makna kultural yang simbolik, yaitu ide atau gagasan.
Kesenian Topeng Ireng yang dibawakan oleh ”Perwira Rimba” saat ini sedang menjadi pusat perhatian masyarakat. Di manapun dan kapanpun ”Perwira Rimba” tampil selalu dipadati oleh ratusan masyarakat yang ingin menyaksikan keunikan kesenian ini. Seperti pementasan Topeng Ireng ”Perwira Rimba” pada tanggal 26 April 2009. Pementasan pada saat itu bertempat di halaman Kantor Kelurahan Parakan Wetan, dalam rangka memeriahkan acara Bazar dan Lelang Amal yang diselenggarakan oleh salah satu instansi swasta di Kecamatan Parakan. Waktu menunjukkan pukul 14.30 WIB dan di tempat tersebut sudah dipenuhi oleh ratusan orang yang menantikan kedatangan ”Perwira Rimba”. Penantian itu berujung ketika semua mata orang-orang yang ada di sana memandang ke arah satu mobil bak terbuka yang bertuliskan PERWIRA RIMBA dengan beberapa orang di atas mobil tersebut yang menggunakan kostum unik khas Dayakan. Para penonton yang sudah bersiap sejak tadi mulai mengelilingi arena pementasan. Seperti kesenian rakyat pada umumnya, tidak ada tempat duduk bagi penonton. Mereka berdiri dan berebut untuk menempati tempat paling depan. Beberapa saat kemudian alat musik mulai dimainkan, pada awalnya suara yang muncul berasal dari alat musik bendhe yang kemudian diikuti oleh alat musik lain. 5-10 menit instrumen musik tersebut mengalun untuk memberikan waktu bagi para penari mempersiapkan barisan di tepi arena. Ketika syair lagu mulai dinyanyikan oleh sang vokalis, satu per satu penari masuk arena pementasan dengan tarian inti Topeng Ireng sampai terbentuk suatu pola lantai atau pola barisan. Gerakan, pola lantai dan barisan berikutnya mengikuti alunan beberapa lagu dan menyesuaikan dengan dinamika musik dalam lagu-lagu yang dibawakan non-stop selama kurang lebih 45 menit tersebut. Inilah yang merupakan babak pertama dalam kesenian Topeng Ireng, yaitu babak Rodat Dayakan.
Selang beberapa saat setelah babak pertama selesai ditampilkan, babak kedua yaitu Montholan mulai disajikan. Beberapa pemain dengan riasan seperti Punakawan dalam cerita pewayangan mulai memasuki arena. Dalam babak ini disajikan lawakan-lawakan dengan bahasa Jawa dan dan syair-syair lagu yang mengundang tawa penonton. Babak ini berlangsung kurang lebih 30 menit. Dalam babak ini pemeran Tokoh Sentral yang menjadi pusat dari cerita yang terkandung dalam pementasan Topeng Ireng masuk ke arena dan memerankan perannya dalam cerita yang disajikan. Di tengah cerita, Pemain rodat Dayakan kembali masuk ke arena pementasan sesuai dengan alur cerita yang ingin disampaikan. Beberapa saat kemudian beberapa pemain dengan kostum mirip hewan seperti macan, banteng, dan sebagainya memasuki arena dengan gerakan yang tidak memiliki aturan dan seolah ”liar”. Pada babak ini sudah masuk ke babak ke tiga yaitu babak Kewanan. Dalam babak ini pemain dari ketiga babak yang ada dan Si Tokoh Sentral berada di arena pementasan dengan perannya masing-masing. 20 menit kemudian pementasan diakhiri dengan posisi jatuh atau gerakan mundur yang dilakukan oleh pemain Kewanan. Setelah itu semua pemain meninggalkan arena pementasan.
(http://jingganyasenja.wordpress.com/2010/08/31/kajian-antropologi-hermeneutik-tentang-makna-kesenian-topeng-ireng-bagi-kelompok-pemuda-%E2%80%9Dperwira-rimba%E2%80%9D/)

I. CARA MELESTARIKAN
Berbagai cara untuk melestarikan kebudayaan Jawa, merupakan inti dari karya Tulis ini.Untuk itu, berikut cara – cara untuk melestarikan kebudayaan Jawa termasuk Topeng Ireng :
a.Menumbuhkan sikap menghargai terhadap kesenian – kesenian Jawa,yang dianggap kuno.Karena para pemuda sering gengsi untuk memainkan budaya yang dianggap kuno tersebut. Dengan membuat kelompok Topeng Ireng di setiap desa. Sehingga, para pemuda bisa ikut andil, sehingga para pemuda dapat menghargai kesenian Topeng Ireng.
b.Menumbuhkan rasa tertarik dan rasa cinta terhadap Kesenian Topeng Ireng. Dengan penjelasan di paragraf ‘a’ di atas, maka akan timbul rasa tertarik dan rasa cinta terhadap kesenian Topeng Ireng.
c.Mengadakan festival – festival Seni dan Budaya Jawa di kalangan para pemuda. Seperti festival kebudayaan yang dirayakan saat ulang tahun Kota Temanggung, dengan begitu para pemuda akan tertarik pada acara tersebut.
d.Mengadakan perlombaan kesenian – kesenian Jawa, sehingga kita bisa mengajak teman atau saudara untuk melihatnya dan mengenali kesenian tersebut.
e.Memperkenalkan melalui dunia maya, seperti membuat blog tentang kesenian Topeng Ireng.
f.Memperkenalakan kesenian – kesenian melalui Youtube. Sebagai contoh, kita merekam pementasan kesenian Topeng Ireng dalam bentuk video,lalu memasukkannya ke youtube.
Maka, dari berbagai cara pelestarian tersebut, diharapkan para generasi muda dapat melestarikan kesenian Topeng Ireng, sehingga kesenian Topeng Ireng tetap lestari.

BAB IV
PENUTUP

1. KESIMPULAN
Dari pembahasan tersebut, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
A.Kebudayaan adalah sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak.
B.Tarian Topeng Ireng ini, berasal dari kata “Toto Lempeng Irama Kenceng”. Toto berarti Menata. Lempeng artinya lurus. Irama adalah nada dan Kenceng berarti Kencang. Topeng Ireng berarti penarinya berbaris lurus dengan irama yang penuh semangat.
C.Cara melestarikan Kebudayaan Jawa :
Menumbuhkan sikap menghargai terhadap kesenian – kesenian Jawa,yang dianggap kuno.Menumbuhkan rasa tertarik dan rasa cinta terhadap Kesenian Topeng Ireng.Mengadakan festival – festival Seni dan Budaya Jawa di kalangan para pemuda.Memperkenalkan Kesenian Topeng Ireng kepada para pemuda.Mengadakan perlombaan kesenian – kesenian Jawa.Memperkenalakan melalui dunia maya.Memperkenalakan kesenian – kesenian melalui Youtube.

2.SARAN
Dari beberapa kesimpulan tersebut, maka diperlukan para pemuda yang menghargai dan mendukung kebudayaan Jawa. Kita dapat menggambil hal – hal yang positif dan bermanfaat dari budaya Modern, sesuai dengan norma dan tidak menghapuskan Kebudayaan Jawa yang telah kita ketahui. Semestinya, kita harus melestarikan Kebudayaan Jawa sebagai aset Negara.

Lampiran

TEKS WAWANCARA

1.Apa saja perlengkapan baju yang digunakan dalam pementasan Topeng Ireng?
>Perlengkapan baju yang digunakan dalam pementasan Topeng Ireng yaitu Rapek,Badhung, Kuluk, dan Kroncong.
2.Apa saja yang diperlukan dalam Iringan Topeng Ireng?
>Yang diperlukan dalam Iringan Topeng Ireng adalah Bedhug, Saron, Bendhe, Kendang, dan Orgen Tunggal.
3.Sejak kapan bapak mendirikan kesenian Topeng Ireng ini?
>Sejak tahun 2006.
4.Bagaimana bapak bisa mendapatkan peralatan tersebut?
>Dari hasil jerih payah rombongan anggota dari Topeng Ireng ini.
5.Apa isi lagu untuk melestarikan Budaya Jawa ini?
>Isi lagu dalam kesenian ini adalah tentang Agama Islam.
6.Apakah dalam gerakan – gerakan pada Topeng Ireng ini ada Modifikasi?
>Dalam gerakan – gerakan pada Topeng Ireng ini tidak ada Modifikasi.

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR RUJUKAN
Arikunto, Suharsimi. 2006. Metode Penelitian Suatu Pendekatan Praktik, Edisi Revisi VI. Jakarta: Rineka Cipta
Badan Pusat Statistik. 2009. Data Monografi Kelurahan Parakan Wetan Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung Tahun 2009. Jakarta: Badan Pusat Statistik
Cassirer, Ernst. 1987. Manusia dan Kebudayaan: Sebuah Esei tentang Manusia. Alois A. Nugroho, Penerjemah. Jakarta: PT Gramedia

SUMBER INTERNET
(http://id.wikipedia.org/wiki/Kebudayaan).
[desabudaya.indonetwork.co.id/]
(The Real Jogja/joe)

http://putrakawedar.blogspot.com/

: http://www.kompas.co/ver1/negeriku

http://borneo-tribune.net/2008/12/05/benarkah-kesenian-tradisional-itu-kuno-dan-feodal/

(http://jingganyasenja.wordpress.com/2010/08/31/kajian-antropologi-hermeneutik-tentang-makna-kesenian-topeng-ireng-bagi-kelompok-pemuda-%E2%80%9Dperwira-rimba%E2%80%9D/)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s